– Pemesanan atau reservasi tiket pesawat idealnya dilakukan sedini mungkin karena kita tidak bisa memastikan apakah harga akan berfluktuasi, jadwal terbang akan diubah, atau ada faktor tak terduga lainnya.
Namun, berbeda halnya bagi mereka yang menunda hingga detik-detik akhir untuk memesan tiket pesawat, tantangannya di sini adalah bersaing dengan banyak orang. Mengapa ada beberapa penumpang yang hanya membooking penerbangan melalui aplikasi tidak sampai beberapa hari sebelum keberangkatan?
Tingkah laku tersebut pun merata mencakup semua bagian dalam hidup mereka, termasuk bidang pekerjaan, belajar, interaksi sosial, serta cara mendidik anak. Seperti dilaporkan oleh Weblog Usher in di hari Jumat (25/04), umumnya mereka memperlihatkan tujuh ciri unik berikut:
1. Spontanitas
Sikap pertama yang tak bisa disepelekan pada para penumpang pesawat closing minute adalah sifat spontannya. Mereka tumbuh dalam menghadapi hal-hal tak terduga dan umumnya dikenali dari kebiasaan membuat keputusan mendadak mereka.
Mereka merupakan individu yang bisa jadi memilih berpetualang akhir pekan secara impulsif, atau mendadak merindukan pertemanan lama dan berniat berkunjung ke kota lainnya.
Spontanitas merupakan suatu karakteristik yang bisa mengantarkan berbagai kesenangan serta ketidaktentuan ke dalam hidup. Hal ini berkaitan dengan kemauan untuk merangkul pengalaman-pengalaman anyar tanpa dibebani oleh rutinitas ataupun perencanaan yang sangat inflexible.
2. Penundaan
Walaupun kadang-kadang akibat kesibukan dengan pekerjaan lain, mereka kerap kali merasa hanya mengelak dari tahapan membuat keputusan. Terdapat tekanan khusus yang berhubungan dengan penuntasan penyusunan itinerary perjalanan.
Menangguhkan tugas bisa jadi suatu perilaku yang rumit. Sebuah telat mengerjakan pekerjaan sering kali menciptakan tekanan serta ketakutan seiring berjalannya batas waktunya. Namun demikian, terdapat pula rasa nyaman yang ganjil pada sikap mengundur-ungurkan tindakan hingga betul-betul dibutuhkan.
Meskipun memiliki potensi untuk menciptakan stres, penundaan juga bisa menghasilkan sejumlah tawaran penerbangan mendadak yang luar biasa baik.
3. Berani ambil risiko
Ketiga, salah satu karakteristik yang mencolok dari para pembeli tiket pesawat mendadak adalah sifat berani mengambil resiko. Membeli tiket dalam waktu singkat sebenarnya merupakan perjudian. Anda mempertaruhkan kesempatan untuk mendapatkan harga diskon, atau setidaknya tempat duduk di pesawat, saat jarak waktu kelepasan makin sempit.
Berdasarkan Magazine of Behavioral and Experimental Economics, individu yang siap menghadapi resiko finansial umumnya juga lebih mungkin untuk berani ambil risiko dalam aspek hidup lainnya.
Hal ini dapat memperjelas alasan mengapa sebagian orang merasa aman dengan menunda pesanan penerbangan sampai detik-detik terakhir, mencerminkan sikap mereka secara umum dalam menghadapi resiko.
Dengan memeluk ketidaktentuan dan berani menghadapi resiko, mereka umumnya berhasil mendapatkan tawaran luar biasa serta menikmati petualangan perjalanan yang menyenangkan dan tak terduga.
4. Mencari sensasi
Seperti halnya mengambil risiko namun dengan variasi yang lebih kecil, mencari sensasi juga merupakan ciri karakter orang-orang yang biasanya baru memesan tiket pesawat menjelang batas waktu.
Orang-orang pencari petualangan biasanya berminat pada adrenalin yang hadir bersama keadaan tak tentu arah. Menantang diri sendiri dengan proses membooking tiket pesawat secara mendadak di menit-menit akhir, tanpa tahu apakah pilihan kursi dan tarif akan sesuai harapan, bisa menciptakan perasaan gembira yang luar biasa.
Hal ini pun bisa merambah hingga ke pengalaman perjalanannya langsung. Aspek ketidPastian yang hadir saat mengatur sesuatU di detik terakhir mampu menjadikan perjalanan tersebut lebih bersemAng dan dipenuhi petualangan. Destinasi, tempat tinggal, termASuk aktifitas apa saja yANG akan dilakukkan semua bisa menjadi sebahagiaan dari momen mendesak ini.
5. Kemampuan beradaptasi
Keterampilan adaptif merupakan aspek penting bagi orang-orang yang membooking perjalanan pesawat pada detik-detik akhir. Hal ini menjadi tantangan yang perlu dihadapi dan disyukuri dalam diri seseorang.
Ketanggapan dalam memindahkan serta merombak ekspektasi tak cuma ciri dari mereka yang memesan di detik akhir, melainkan pun suatu kebolehan essential dalam kehidupan. Orang-orang ini mampu lebih mudah bersesuaian dengan bermacam-macar perubahan.
6. Optimisme
Semangat positivitas merupakan sifat umum yang dijalani oleh orang-orang yang suka membooking tiket pesawat menjelang detik akhir. Mereka lebih condong berpikir bahwa keadaan selalu mendukung mereka.
Apakah itu memperoleh berbagai barang saat penerbangan, memesan tempat duduk pada tiket yang sudah offered out, atau melaksanakan perjalanan istimewa walaupun persiapan dilakukan secara mendadak.
Gagasan optimis ini biasanya melebihi sekedar merancang petualangan. Mereka cenderung menghadapi hambatan dan ketidaktentuan dalam kehidupan dengan sudut pandang “gelas setengah penuh,” yakin bahwa kesuksesan tidak lama lagi akan tiba.
Sama seperti setiap karakteristik lainnya, terdapat kelebihan dan kekurangan dalam bersikap optimis. Salah satu manfaatnya adalah mereka mampu menjaga ketenangan meski menghadapi tekanan.
7. Fleksibilitas
Karakteristik utama dari pembeli tiket pesawat mendadak tanpa keraguan adalah kefleksibelannya. Mereka cenderung merasa tenang menghadapi perubahan dan bisa dengan cepat memodifikasi jadwal apabila dibutuhkan.
Apakah itu merombak goal gara-gara biaya tiket pesawat mahal, menyetel ulang jadwal sesuai kesempatan tersedia, atau malah memilih untuk bepergian menggunakan kendaraan darat bukannya naik pesawat, individu tersebut tidak terlalu keras kepala pada skema aslinya.
Kelenturan ini dapat berfungsi sebagai pisau bermata dua. Walaupun membolehkan ekspedisi mendadak serta peluang kesepakatan menjelang batasan waktu, hal tersebut pun bisa membawa keambiguan dan tekanan potensial.
Tetap saja apa adanya, tindakan semacam ini berakar pada keterlambatan. Apabila hal tersebut terus-menerus terjadi di lingkungan pekerjaan, dapat mengurangi produktivitas kerja.
Seperti yang diambil dari situs internet Kampus Psikologi pada hari Sabtu (25/04), solusi untuk hal ini melibatkan perubahan pola pikir, menyusun urutan kerja berdasarkan tingkat kepentingannya, memecah tujuan menjadi bagian-bagian lebih kecil, dan juga usaha untuk menghindari gangguan.