January 16, 2026
Pelindo Bongkar Akar Masalah Kemacetan Berat di Tanjung Priok

.CO.ID, JAKARTA — PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo telah melakukan evaluasi dan identifikasi inner setelah kejadian kemacetan pada 17-18 April 2025 lalu. Ini demi mencari sumber penyebabnya.

Berdasarkan hasil penilaian, dapat dilihat bahwa salah satu dari terminal kontainer di Tanjung Priok yakni Terminal NPCT1, bertanggung jawab atas pelayanan
buyer
Lebih dari kapasitas optimum untuk beroperasi. Berdasarkan hasil penyelidikan yang cukup mendalam, disimpulkan bahwa masalah kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok merupakan konsekuensi dari kelalaian dan kurangnya hati-hati dari pihak NPCT1 saat merancang proses operasional tersebut,” ungkap Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono, dalam siaran persnya di Jakarta, seperti dilaporkan pada hari Sabtu (26/4/2025).

Dia mengonfirmasi bahwa insiden itu sama sekali tak berhubungan dengan batasan transportasi selama Idulfitri. Arif menyebutkan bahwa lonjakan aktivitas tersebut merupakan hasil dari ketiganya berturut-turut merapat di NPCT1, serta meningkatnya kerumunan di house parkir.
Backyard Occupancy Ratio
–YOR) melebihi ambang customary. Pada saat yang sama, alat bongkar muat di lapangan (RTG) juga harus melayani
receiving
dan
supply
Truk peti kemasnya overloaded dengan peralatan.

Untuk terminal-terminal petikemas internasional lainnya, seperti Jakarta World Container Terminal (JICT), Terminal Petikemas Koja (KOJA), Mustika Alam Lestari (MAL), serta Terminal 3, semuanya berjalan tanpa adanya masalah apa pun.

“Agar mengurangi padatnya house NPCT1, Pelindo bekerja sama dengan pihak berwenang mentransfer beberapa sandaran ke terminal lain bagi kapal-kapal yang akan melaksanakan aktivitas muat dan lepas barang. Dengan demikian, intensitas keramaian di lapangan peti kemas dapat segera diperkecil. Di samping itu, kita juga mengerahkan upaya peningkatan dalam hal pengawasan atas aliran masuk dan keluar barang demi menjaga agar kondisi tetap stabil,” jelas Arif.

Pada malam harinya tanggal 18 April 2025, kemacetan mulai teratasi dengan bertahap. Selanjutnya kondisi menjadi customary lagi penuh pada Jumat tengah malam, yaitu tanggal 19 April 2025.

“Kami sekali lagi mengungkapkan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul karena peristiwa itu, serta kami tetap bekerja sama dengan semua pihak berkepentingan di dermaga untuk mencegah hal serupa terjadi kembali,” ungkap Arif.

Dia menjelaskan bahwa karena akar masalah telah dipahami secara rinci, langkah-langkah pemecahannya bisa dilakukan dengan efektif. Langkah pertama adalah ketika terjadi insiden tersebut, beberapa kapal harus dipindahkan ke Terminal alternatif. Kemudian, kedepannya NPCT dinilai perlu mengecilkan jumlah kapal yang berada di lokasi. Tambahan lagi, ada ide lain untuk meredam arus truk melalui implementasi sistem Time-Based totally Scheduling (TBS) serta mendukung pelaksanaan hal ini.
twin transfer operation
untuk angkutan pelabuhan.

Menurut Arif, sistem itu bisa mengecilkan kemacetan lalu lintas sebab truk-truk bakal memuat dan melepaskan kontainer mereka baik ketika tiba maupun pergi dari Terminal Tanjung Priok, demikian konsepnya.
twin transfer
Ini lebih hemat waktu serta mengurangi biaya berkat adanya penghematan bahan bakar. Untuk penyelesaian jangka panjang, Pelindo sudah merencanakan konstruksi jalur alternatif baru bernama New Priok Japanese Get admission to (NPEA). Jalur ini akan membangun hubungan langsung antara New Priok Terminal dengan jalan toll pelabuhan. Dengan demikian, lalu lintas barang masuk dan keluar wilayah industri seperti Cikarang, Cibitung, dan house sekitarnya menjadi semakin lancar menuju Pelabuhan Tanjung Priok.